Ketika Parfum Jadi Alat Klasifikasi Sosial: 'Oh, Dia Pakai That Brand...'. Cara Mendeteksi & Menghancurkan Prasangka Aroma dalam Sekejap

Pernah nggak sih, kamu lagi duduk manis di sebuah coffee shop bilangan Jakarta Selatan atau area hits lainnya, lalu tiba-tiba ada seseorang melintas? Belum juga orangnya terlihat jelas, hidung kamu sudah disergap oleh aroma yang sangat spesifik. Otak kamu, yang entah kenapa sudah terlatih oleh ribuan konten TikTok dan Instagram, langsung memproses data itu dalam hitungan milidetik.
"Ah, wangi safron dan burnt sugar. Pasti Baccarat Rouge 540. Atau... jangan-jangan cuma dupe harga 50 ribuan?"
Atau di skenario lain, kamu mencium aroma kayu cendana (sandalwood) yang basah dan sedikit bau acar (dill pickle), lalu batinmu berbisik sinis, "Hmm, Santal 33 lagi. Anak agensi mana nih?"
Tanpa sadar, sebelum kita menyapa atau mengenal nama mereka, kita sudah menempelkan label harga, status sosial, bahkan kepribadian ke jidat orang tersebut hanya berdasarkan molekul udara yang masuk ke rongga hidung. Selamat datang di era Olfactory Classism atau Klasifikasi Sosial Berbasis Aroma.
Ini bukan lagi soal wangi atau bau. Ini adalah medan perang status yang tak kasat mata. Parfum, yang sejatinya adalah karya seni cair dan ekspresi diri, perlahan berubah menjadi seragam identitas dan alat validasi. Tapi pertanyaannya: Kenapa hidung kita jadi begitu judgmental? Dan yang lebih penting, bagaimana cara kita berhenti menjadi "hakim aroma" dan kembali menikmati parfum sebagaimana mestinya?
Mari kita bedah fenomena ini sampai ke akar-akarnya, lebih dalam dari sekadar top notes yang menguap dalam lima menit.
Aroma Uang dan Hirarki Hidung: Sebuah Sejarah Singkat
Jangan salah sangka, penggunaan wewangian sebagai penanda kelas sosial bukan fenomena baru yang dibawa oleh Gen Z. Ini sudah terjadi sejak zaman Mesir Kuno. Dulu, hanya Firaun dan pendeta tinggi yang boleh memakai dupa kyphi. Rakyat jelata? Cukup bau keringat dan bawang saja.
Namun, pergeseran yang terjadi di era modern ini jauh lebih kompleks. Dulu, batasan itu sederhana: Orang kaya pakai parfum, orang miskin tidak. Titik. Sekarang? Semua orang pakai parfum. Variabelnya bergeser dari "pakai atau tidak" menjadi "brand apa yang kamu pakai" dan "seberapa langka wangimu".
Evolusi Snobisme Aroma
- Era Designer (80-an & 90-an): Kemewahan didefinisikan oleh logo besar. Jika kamu wangi Chanel No. 5 atau Dior Poison, kamu dianggap wanita karir sukses. Wangi itu harus "loud", harus teriak, harus memenuhi ruangan.
- Era Niche (2010-an - Awal 2020): Ketika parfum designer mulai terasa pasaran, kaum elit (dan mereka yang ingin terlihat elit) lari ke parfum Niche. Merek seperti Creed, Jo Malone, dan Diptyque menjadi simbol "Old Money". Logikanya: "Saya tidak mau wangi sama dengan orang yang antre di department store biasa."
- Era Viral & Dupe (Sekarang): Inilah fase paling kacau. Parfum niche yang harganya 5-10 juta rupiah mendadak viral. Pabrik dupe (tiding) berlomba-lomba membuat tiruannya dengan harga 1% dari aslinya. Akibatnya? Wangi "orang kaya" menjadi pasaran. Eksklusivitas runtuh. Dan di sinilah prasangka itu muncul semakin tajam.
Sekarang, memakai parfum mahal yang terlalu populer (seperti that famous red bottle) justru bisa menjadi bumerang. Alih-alih dianggap kaya, kamu mungkin dianggap "korban tren" atau "nggak kreatif". Kejam, bukan?
Mengapa Kita Menjadi Polisi Parfum? (Psikologi di Balik Penghakiman)
Untuk menghancurkan prasangka, kita harus tahu dulu dari mana asalnya. Kenapa kita merasa superior saat memakai parfum indie yang baunya seperti aspal basah dan buku tua, lalu merasa ilfeel mencium wangi vanila manis yang generik?
1. The Scarcity Principle (Prinsip Kelangkaan)
Manusia secara biologis diprogram untuk menghargai apa yang langka. Dalam dunia parfum, "wangi yang sulit didapat" atau "wangi yang aneh" seringkali diterjemahkan oleh otak kita sebagai sesuatu yang bernilai tinggi. Sebaliknya, wangi yang bisa ditemukan di sabun cuci piring atau pewangi laundry dianggap bernilai rendah.
Masalahnya, persepsi "murah" dan "mahal" ini seringkali hanyalah konstruksi marketing. Minyak esensial mawar asli itu mahal luar biasa, tapi karena aroma mawar sering dipakai di produk pembersih lantai, banyak orang mengasosiasikan mawar dengan "bau pel". Ini adalah bias kognitif.
2. Tribalism (Pengelompokan Sosial)
Parfum kini menjadi kode rahasia sebuah kelompok (tribe).
- Wangi Skin Scent (seperti Glossier You): Kode untuk "Clean Girl", minimalis, yoga di pagi hari, minum matcha latte.
- Wangi Oud & Leather: Kode untuk pria mapan, berwibawa, mungkin sedikit misterius.
- Wangi Fruity Floral yang manis: Seringkali, secara tidak adil, dilabeli sebagai "kekanak-kanakan" atau "kurang sophisticated".
Saat kita mencium wangi yang tidak sesuai dengan "kelompok" yang kita aspiraikan, kita cenderung merendahkannya. Padahal, selera itu subjektif.
Mendeteksi Gejala 'Fragrance Snobbery' pada Diri Sendiri
Sebelum kita menunjuk hidung orang lain, mari bercermin. Apakah Anda sudah terpapar virus snobbery ini? Coba jawab pertanyaan berikut dengan jujur:
- Apakah Anda pernah membatalkan niat membeli parfum yang wanginya enak hanya karena tahu banyak orang lain yang memakainya?
- Apakah Anda merasa bangga jika orang bertanya "Pakai parfum apa?" lalu Anda menjawab dengan nama brand yang mereka tidak bisa ucapkan?
- Apakah Anda otomatis menganggap parfum supermarket pasti baunya tidak enak sebelum mencobanya?
- Apakah Anda merasa terganggu jika asisten rumah tangga atau sopir ojol memakai parfum yang wanginya mirip dengan parfum mahal Anda?
Jika Anda menjawab "Ya" pada salah satu poin di atas, selamat, Anda sudah terjebak dalam permainan klasifikasi sosial ini. Anda tidak lagi mencium aroma; Anda sedang membaca label harga dengan hidung Anda.
Cara Menghancurkan Prasangka Aroma dalam Sekejap
Kabar baiknya, kondisi ini bisa disembuhkan. Kita bisa melatih ulang otak dan hidung kita untuk kembali murni. Kembali menikmati parfum sebagai seni olfaktori, bukan alat panjat sosial. Berikut adalah langkah taktis untuk "de-programming" bias aroma Anda:
1. Lakukan "Blind Sniffing Challenge"
Ini adalah cara paling brutal tapi efektif. Pergilah ke toko parfum bersama teman. Minta teman Anda menyemprotkan beberapa parfum ke blotter (kertas tester) tanpa memberi tahu Anda mana yang mahal dan mana yang murah. Campurkan parfum 5 juta rupiah dengan parfum minimarket 50 ribu rupiah.
Cium satu per satu. Fokus hanya pada baunya. Apakah membuat Anda tersenyum? Apakah mengingatkan Anda pada kenangan indah? Lupakan botolnya, lupakan harganya. Anda akan terkejut betapa seringnya hidung Anda sebenarnya lebih menyukai wangi yang sederhana dibandingkan wangi kompleks yang harganya selangit.
2. Pahami Bahwa "Pasaran" Itu Artinya "Enak"
Kenapa Baccarat Rouge 540, Sauvage, atau Black Opium begitu pasaran? Jawabannya sederhana: Karena wanginya enak menurut mayoritas hidung manusia.
Berhenti membenci sesuatu hanya karena itu populer. Itu adalah pola pikir hipster yang melelahkan. Jika Anda menyukai wangi vanila yang manis dan populer, pakailah! Jangan korbankan kebahagiaan dopamin Anda demi validasi dari segelintir komunitas pecinta parfum niche.
3. Hormati "Chemistry" Tubuh yang Unik
Ini fakta sains yang sering dilupakan: Parfum yang sama akan berbau berbeda di setiap orang. Faktor pH kulit, pola makan, tingkat stres, hingga hormon memengaruhi hasil akhir aroma.
Jadi, ketika Anda mencium wangi "itu lagi" di orang lain, ingatlah bahwa di kulit mereka, mungkin wangi itu memiliki nuansa yang berbeda. Parfum seharga 10 juta bisa berbau seperti keringat masam di kulit yang tidak cocok, dan parfum 100 ribu bisa berbau surgawi di kulit yang tepat. Hargai keajaiban biologi ini.
4. Pisahkan Seni dari Status
Anggap parfum seperti musik. Ada musik klasik (Niche/Complex) yang butuh pemahaman mendalam untuk dinikmati. Ada musik Pop (Designer/Mass Pleasing) yang enak didengar sambil nyetir. Apakah penikmat musik klasik lebih mulia dari penikmat pop? Tidak. Keduanya punya waktu dan tempatnya masing-masing.
Mulai sekarang, klasifikasikan parfum berdasarkan mood dan tujuan, bukan harga.
- "Ini wangi untuk merasa berani."
- "Ini wangi untuk merasa nyaman."
- Bukan "Ini wangi supaya dikira orang kaya."
The Great Equalizer: Pada Akhirnya, Semuanya Menguap
Ada sebuah ironi yang indah dalam dunia parfum. Tidak peduli apakah Anda memakai Attar murni yang berusia 50 tahun atau body mist diskonan, semuanya memiliki nasib yang sama: menguap.
Molekul aroma tidak bertahan selamanya. Sillage (jejak wangi) akan memudar. Dalam 24 jam, kita semua akan kembali ke bau dasar manusia. Menyadari kesewentaraan ini seharusnya membuat kita lebih rendah hati.
Menggunakan parfum sebagai alat klasifikasi sosial adalah usaha yang sia-sia karena fondasinya sendiri (si aroma itu) bersifat volatil dan fana. Apakah layak kita membangun tembok pemisah antar manusia hanya berdasarkan sesuatu yang akan hilang terbawa angin dalam beberapa jam?
Penutup: Jadilah Kurator, Bukan Kritikus
Mendeteksi prasangka aroma adalah langkah awal kedewasaan olfaktori. Menghancurkannya adalah tanda kemerdekaan diri.
Lain kali Anda mencium aroma yang familiar entah itu wangi "sejuta umat" atau wangi yang dianggap "kampungan" oleh standar elitis tahan dorongan untuk menghakimi. Tarik napas, dan cobalah temukan satu hal positif dari aroma itu. Mungkin itu wangi seseorang yang sedang berusaha tampil terbaik di kencan pertamanya. Mungkin itu wangi seseorang yang bekerja keras dan ingin merasa segar.
Parfum terbaik bukanlah yang paling mahal, paling langka, atau paling sering dipuji oleh influencer. Parfum terbaik adalah yang ketika Anda hirup, membuat bahu Anda rileks, hati Anda hangat, dan membuat Anda merasa menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Jadi, pakailah apa yang Anda suka. Dan biarkan orang lain memakai apa yang mereka suka. Karena pada akhirnya, dunia ini terlalu bau jika kita hanya mengandalkan prasangka.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya

Signature Scent: Bagaimana Menemukan 'Identitas Wangi' yang Benar-Benar Mewakili Diri Anda?
Menemukan parfum bukan sekadar memilih wangi yang enak. Ini adalah perjalanan menemukan ekstensi jiwa Anda yang tak terlihat. Simak panduan mendalam untuk menemukan signature scent sejati Anda.

Clone Wars: Apakah Membeli Parfum 'Inspirasi' (Dupe) Melanggar Hak Cipta Karya Seni? Ini Penjelasannya.
Perdebatan panas tentang parfum dupe vs original. Apakah aroma bisa dipatenkan? Apakah membeli parfum inspirasi melanggar hukum? Simak ulasan lengkap dari sisi hukum dan etika di sini.

Hidung Bernilai Triliunan: Mengenal Profesi "The Nose" (Perfumer) yang Asuransinya Gak Ngotak!
Pernah dengar profesi yang dilarang makan pedas dan naik motor? Kenalan dengan "The Nose", seniman kimia dengan gaji fantastis yang hafal 3.000 jenis bau.